Wilayah Geografis

A. Pengaruh Faktor Alam dan Faktor Manusia

1. Faktor Alam

5c5174a863007.jpg

Posisi geografis kawasan pertanaman kopi Arabika dataran tinggi Bajawa di Kabupaten Ngada berada ditengah-tengah Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan kondisi daerahnya yang tropis, berada pada garis lintang antara 120° 05?E dan 121°03?E, garis busur antara 8°45?S dan 8°52?S. Kawasan ini memiliki alam pegunungan sejuk yang mencakup lereng dan dataran-dataran bergelombang. Vegetasinya termasuk tanaman hutan, hortikultura dan tanaman pangan serta tanaman perkebunan kopi Arabika.

Beberapa unsur lingkungan fisik dataran tinggi Bajawa di kabupaten Ngada sebagaimana tersebut pada Tabel 1. Dataran tinggi Bajawa berada pada ketinggian antara 1.200 – 1.550 meter dpl. Pada umumnya kebun kopi yang terdapat pada ketinggian sekitar 1.200 meter dpl., merupakan kondisi ideal untuk pertanaman kopi Arabika. Curah hujan rata-rata sebanyak 2.597 mm per tahun dengan hari hujan ratarata sebanyak 115 hari per tahun cukup baik untuk budidaya kopi Arabika. Pada bulan kering kondisi lengas tanah masih cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman kopi.

Jenis tanah mayoritas Andisol yang mempunyai kesuburan kimiawi tinggi serta kondisi fisika tanah yang baik, sehingga juga sangat mendukung untuk pertumbuhan kopi Arabika. Tingkat kesuburan tanah yang tinggi akan berpengaruh terhadap kualitas cita rasa dan fisik biji kopi yang dihasilkan.

Tabel 1. Unsur Lingkungan Fisik Dataran Tinggi Bajawa Kabupaten Ngada

2. Faktor Manusia

Bahan baku gelondong merah kopi Arabika “Flores Bajawa” dihasilkan oleh lembaga petani yang berusaha tani di lahan kering (pertanian yang tidak menggunakan irigasi teknis) di kawasan kopi Arabika kabupaten Ngada yang disebut “Kelompok Tani”. Kelompok Tani pada esensinya merupakan organisasi petani yang mempunyai sejarah dan tradisi yang panjang, dibentuk di daerah yang memiliki orientasi pertanian yang sama.

Di masing-masing desa biasanya satu Kelompok Tani sudah dibentuk dengan anggota antara 50 sampai 100 keluarga petani. Sekitar 14 Kelompok Tani di kawasan kawasan kopi Arabika kabupaten Ngada, menerima fasilitas-fasilitas untuk melakukan olah basah kopi dari pemerintah daerah dan sektor swasta sehingga menghasilkan kopi dalam bentuk kopi HS dan kopi Ose yang dihasilkan oleh unit Pengolah di kelompok tani tersebut.

Lahan yang terbatas akan memaksa para petani untuk melakukan intensifikasi produksi pertanian. Namun mereka juga memiliki kemauan untuk melakukan diversifikasi aktivitas pertanian, dan memadukan tanaman kopi dengan jenis tanaman lain (cengkeh, pisang, dan lain-lain) dan binatang ternak. Perpaduan ini menghasilkan sistem penanaman yang menarik dan unik, yaitu dari tanaman lain kopi bisa mendapatkan penaung, dan ternak bisa mendapatkan pakannya. Kotoran ternak menjadi pupuk kandang (organik) yang dapat digunakan untuk pohon kopi. Oleh karena kopi Arabika Flores Bajawa ditanam tanpa menggunakan pupuk yang lain atau pestisida kimia maka kopi Arabika Flores Bajawa ini tumbuh secara organik.

Petani-petani di kawasan kopi Arabika kabupaten Ngada juga selalu menggunakan pohon penaung, misalnya dadap yang merupakan tanaman paling banyak, yang menguntungkan bagi pohon kopi, dan ternak yang diberi makanan dari daun-daun penaung tersebut.

Tanah yang miring dan kepemilikan yang sempit mengharuskan petani membuat teras-teras di daerah kawasan kopi Arabika kabupaten Ngada. Teras-teras ini pada umumnya sangat menguntungkan untuk kawasan kopi arabika Kabupaten Ngada karena teras-teras ini dapat menahan air agar tidak terjadi erosi.Teras menyebabkan intensitas sinar lebih sempurna, sehingga sangat baik untuk kopi arabika.

B. Peta Wilayah Indikasi Geografis

1. Kawasan Produksi Gelondong Merah dan Kopi HS Basah

Peta batasan wilayah geografis perlu mempertimbangkan tahap-tahap produksi dan pengolahan kopi Arabika Flores Bajawa, karena satu kawasan telah diperuntukkan bagi produksi gelondong merah dan pengolahannya sebagai kopi HS basah. Sedangkan tahap lainnya bisa dilakukan di luar wilayah geografis karena sudah tidak memengaruhi kualitas.

Kopi Arabika Flores Bajawa hanya bisa diperoleh dari gelondong merah dan kopi HS yang diproduksi di wilayah geografis sesuai yang tampak di peta di bawah ini. Keseluruhan wilayah ini terletak di antara 1.000 m sampai dengan 1.550 m dpl. Secara administratif, kawasan ini mencakup kecamatan Bajawa dan kecamatan Golewa. Terdapat 24 desa di kedua kecamatan tersebut yang masuk dalam wilayah geografis.

2. Kawasan Penjemuran Kopi HS, Produksi Kopi Ose, Penyangraian dan Produksi Kopi Bubuk

Ada keharusan bahwa gelondong merah datang dari kawasan seperti yang dijabarkan di atas, dan diolah di kawasan yang sama menjadi kopi HS basah. Penjemuran dilakukan di setiap UPH. Namun setelah penjemuran ini, penyimpanan kopi HS harus dilakukan di tempat pengolahan (di lokasi tempat gelondong merah diolah).

Penggerbusan dan sortasi terakhir (dengan tujuan untuk mendapatkan biji kopi dengan nilai cacat fisik kurang dari 5 per 300 gramnya, dan dengan ukuran lebih besar atau sama dengan nilai 16), serta pelabelan bungkus kopi bisa dilakukan di seluruh Flores. Untuk keperluan pengontrolan tempat penggerebusan dan persiapan lot untuk ekspor (sortasi dan pelabelan) harus dikomunikasikan dengan MPIG. Penyangraian dan pembubukan biji kopi bisa dilakukan di mana saja di dunia ini, selama persyaratan yang tertuang di Buku Persyaratan Indikasi Geografis Kopi Arabika Flores Bajawa ditaati.

5c5805e2638f9.jpg


Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Flores Bajawa adalah perkumpulan produsen kopi dan pengelola hak Indikasi Geografis Kopi Arabika Flores Bajawa.

Sektretariat Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Flores Bajawa
Jl. Trans Bajawa-Ende, KM 6, RT 14, Kelurahan Mangulewa, Kec Bajawa, Kab Ngada, NTT, Indonesia
Telepon: +62 82 11 504 8148 (Leonardus Naru )
Email: uphpapawiu@gmail.com