Kontrol Mutu Fisik dan Cita Rasa

1. Kontrol Mutu Fisik dan Citarasa IG Kopi Arabika Flores Bajawa

Dalam perkembangannya akhir-akhir ini konsumen bukan hanya menuntut mutu kopi yang berkualitas baik, akan tetapi juga kopi yang sehat (aman terhadap kesehatan). Mutu kopi biji pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu mutu fisik dan mutu citarasa. Selama proses pengolahan dilakukan sampling terhadap biji kopi arabika selama pengolahan terhadap masing-masing UPH. Terhadap sampel-sampel kopi tersebut dilakukan analisis mutu fisik dan mutu cita rasa di laboratorium Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember untuk mengetahui sejauh mana kualitas kopi yang dihasilkan oleh petani diatas. Kemudian sebagai pembanding juga dilakukan sampling terhadap kopi Arabika lokal ( asalan ) yang biasa diolah petani pada umumnya dan juga terhadap kopi pasar.


2. Kontrol Kekhasan Kopi IG Arabika Flores Bajawa dan Pemberian Sertifikat

A. Tingkat Unit Pengolahan (UP)

Sertifikat IG diminta oleh UP-UP, setelah pengolahan gelondong merah ke kopi HS dan dua bulan penyimpanan. Beberapa “lot” harus dilakukan (yang berarti produksi harus dibagi dalam bagian-bagian yang terpisah), dan setiap lot akan dicek oleh MPIG berkenaan dengan pemenuhannya dengan Buku Persyaratan, keterunutan dan mutu / kekhasan kopi tersebut.

B. Pembentukan Lot

Setelah pengolahan (dan 2 bulan penyimpanan), kopi sudah layak mendapatkan sertifikat IG.Setiap UP harus mengelompokkan kopi menjadi 10 sampai 15 lot. Ada dua jenis kelompok tani :

  • Beberapa di antaranya bekerja secara kolektif : gelondong merah dibeli dari anggota, dan diproses bersama setiap hari, sampai menjadi kopi HS dan kopi Ose.
  • Kelompok tani lainnya bekerja secara semi-kolektif : gelondong merah dikupas dan diperam di fasilitas bersama, dan kemudian masing-masing produsen mengambil kopi HS mereka dan melakukan penjemuran di depan rumah mereka. Setelah penjemuran dan penyimpanan, pada bulan Oktober/November, kopi ini dikumpulkan bersama, sebelum dijual.

Di dua jenis kelompok tani di atas, pembentukan lot dilakukan dalam cara yang berbeda :

  • Untuk kelompok tani yang bekerja secara kolektif, satu lot dibentuk dalam satuminggu produksi. Karena ada 3 bulan masa panen, maka terdapat antara 10 dan 15 lot.
  • Untuk kelompok tani yang bekerja secara semi-kolektif, pemisahan minggu produksi nampaknya amat sulit dilakukan. Akibatnya, pemecahannya adalah dengan cara membentuk antara 10 sampai 15 kelompok produsen, yang mengumpulkan produksi dari beberapa produsen, yang menghasilkan 10 sampai 15 lot. Namun, di beberapa kelompok tani seperti ini, produksi untuk masingmasing bulan sudah dipisahkan, dan pembentukkan lot-lot agak berbeda (produksi dari masing-masing 3 bulan hanya harus dipisahkan ke dalam 5 kelompok, untuk menghasilkan jumlah total 15 lot).

Unit-unit pengolahan swasta bisa menentukan satu lot / minggu proses (sebagaimana seperti kelompok tani jenis pertama).Sertifikasi diminta untuk masing-masing dari 10 atau 15 lot yang dibentuk oleh Unit Pengolahan. MPIG akan mengecek apabila persyaratan citarasa dan keterunutan dipenuhi.

C. Kontrol Keterunutan

Untuk masing-masing lot, MPIG akan mengecek keterunutan unit pengolah harus menspesifikasi daftar penjual gelondong merah untuk masing-masing lot.



Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Flores Bajawa adalah perkumpulan produsen kopi dan pengelola hak Indikasi Geografis Kopi Arabika Flores Bajawa.

Sektretariat Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Flores Bajawa
Jl. Trans Bajawa-Ende, KM 5, RT 08, Ds Turenaru, Ds Ubedolumolo, Kec Bejawa, Kab Ngada, NTT, Indonesia
Telepon: +62 82 11 504 8148 (Leonardus Naru )
Email: uphpapawiu@gmail.com