Keterunutan

MPIG Kopi Arabika Flores Bajawa selalu melakukan kontrol kualitas dan keaslian asal atau keterunutan setiap produk yang dijual kepada konsumen. Untuk melakukan kontrol keterunutan ini digunakan kode khusus yang dan dijaga kerahasiaan datanya oleh MPIG, yaitu Kode Keterunutan.

Kode keterunutan adalah suatu tanda yang digunakan untuk dapat merunut kembali asal muasal dari produk yang terdapat dalam suatu kemasan.Kemampuan untuk merunut kembali asal muasal produk sangat diperlukan untuk mengetahui dimana terjadinya kelemahan mutu dalam rantai produksi dan pemasaran, apabila ditemukan adanya produk yang berkualitas rendah atau tidak memenuhi stndar kualitas yang ditetapkan.Sehingga dapat dilakukan tindakan yang tepat dan cepat untuk memperbaiki kualitas.

Kode keterunutan juga dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mengetahui keaslian produk, karena kode keterunutan merupakan kode rahasia yang hanya diketahui oleh sekelompok orang tertentu saja dalam MPIG Kopi Arabika Flores Bajawa.

Ada 4 tahap dalam kontrol keterunutan yang dilaksanakan oleh MPIG, antara lain:

1) Pendaftaran Anggota

Kelompok tani anggota MPIG telah diminta untuk membuat daftar anggota produsen kopinya.Daftar ini telah dimasukkan dalam komputer. Dalam daftar ini, para produsen mendapatkan kartu IG dengan nomor keanggotaan dari MPIG. Pembaharuan daftar produsen akan dikeluarkan setiap tahun. MPIG akan mengirim daftar produsen ke masing-masing kelompok tani, dan akan bertanya pada mereka apakah mereka mempunyai perubahan-perubahan dalam keanggotaannya. Misalnya, mungkin ada produsen baru (yang akan menerima kartu baru) atau yang berhenti memproduksi kopi (yang harus mengembalikan kartu mereka). Kalau ada produsen yang melakukan perubahan pada tanaman mereka dan tidak lagi memenuhi aturan-aturan dalam Buku Persyaratan, keanggotaan mereka bisa dibatalkan dan mereka juga diminta untuk mengembalikan kartu mereka.

Masing-masing Unit Pengolahan harus didaftar sebagai “Pengolah IG?. Untuk memudahkan kontrol pada setiap tahap pengolahan kopi IG, setiap Unit Pengolahan harus mencantumkan tempat-tempat di mana mereka melakukan pengolahan kopi (juga di mana kopi akan disimpan).

2) Selama panen dan pengolahan : Kontrol asal gelondong

Setiap kali produsen menyetor atau menjual kopi gelondong merah kepada Unit Pengolahan (UP), maka UP harus mengecek kartu dan mencatat nama produsen, nomor produsen, jumlah kopi yang dibeli dan tanggal transaksi. Apabila ada masalah, UP-UP bisa memeriksa registrasi dari produsen tersebut, MPIG mengirim daftar semua petani yang telah terdaftar kepada semua UP setiap tahun sebelum masa panen.

Petani-petani individu (yang bukan anggota kelompok tani) juga memiliki keleluasaan untuk menjual gelondong merah (jika tanaman mereka terletak di daerah yang ditandai untuk IG dan memenuhi persyaratan-persyaratan) kepada UP setelah mereka diregistrasi oleh kelompok tani sebagai produsen IG.

UP harus mengirim daftar pemasok gelondong merah kepada MPIG dua kali setahun : pertengahan Juli (pertengahan panen), dan akhir September (akhir panen). MPIG mengecek apakah jumlah gelondong merah yang dijual oleh satu produsen sesuai dengan luas dan jumlah pohon yang dimiliki.

3) Merunut asal Lot kopi

Tepat setelah pengolahan, UP harus mengidentifikasi setiap karung dengan kode lot. Kode ini mencakup : kode Unit Pengolahan (XX), tahun produksi (YYYY) dan nomor lot (XX). Kode ini terdiri dari 8 nomor : XX-YYYY-ZZ.

Masing-masing unit pengolahan harus membentuk 10 sampai 15 lot dari produksi tahunan mereka (lot-lot ini dapat dibentuk tergantung dari minggu-minggu produksi atau dengan cara membentuk sub-kelompok produsen di dalam kelompok tani, lihat informasi di bawah tentang pembentukkan lot).

Kode lot-lot ini disimpan sampai pada tahap penjualan kopi IG (bila sertifikat telah didapat, lihat di bawah), dan memungkinkan diadakannya keterunutan yang menyeluruh.

4) Penjualan dan Pembelian Kopi IG

Setelah pengolahan dan penyimpanan, dan mendapatkan sertifikat IG (lihat informasi di bawah), UP bisa menjual kopi IG mereka.Setiap transaksi harus dicatat.Sekali setahun (bulan April), data-data itu harus dikirim ke MPIG. Lalu MPIG mengecek transaksi-transaksi dan kecocokan jumlah kopi Ose atau kopi HS yang dijual dengan jumlah gelondong merah yang dibeli dari produsen IG.

Keterangan :

  • Masing–masing kelompok tani harus mendaftar nama-nama produsen serta data-data tentang perkebunan mereka. Data-data ini kemudian dikirim ke MPIG.
  • Masing-masing produsen mandiri harus diregistrasi langsung oleh MPIG.
  • Masing-masing unit pengolahan (swasta maupun kelompok tani) harus diregistrasi oleh MPIG.
  • MPIG menyampaikan kartu IG kepada masing-masing produsen dan UP-UP mengirim daftar produsen-produsen IG ke masing-masing Unit Pengolahan.
  • Selama musim panen, unit-unit pengolahan harus mengirim data-data tentang gelondong yang diterima dan kopi-kopi yang diproduksi, kepada MPIG.
  • Pada akhir musim, unit-unit pengolahan harus menyampaikan jumlah total kopi yang dijual.

Untuk mempelajari secara ringkas mengenai Indikasi Geografis Kopi Arabika Flores Bajawa bisa membaca Kode Praktek yang bisa didownload di sini:


Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Flores Bajawa adalah perkumpulan produsen kopi dan pengelola hak Indikasi Geografis Kopi Arabika Flores Bajawa.

Sektretariat Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Flores Bajawa
Jl. Trans Bajawa-Ende, KM 6, RT 14, Kelurahan Mangulewa, Kec Bajawa, Kab Ngada, NTT, Indonesia
Telepon: +62 82 11 504 8148 (Leonardus Naru )
Email: uphpapawiu@gmail.com